ON AIR
EDISI Rasanya Bener, Tapi Kok .... 12 min
LAGU 1910 Iwan Fals

Apa yang Harusnya Kita Minta pada Penguasa?

EXCERPT

Kalau kita bisa merasakan ketidakberdayaan narator tanpa setuju bahwa penguasa harus memberinya uang, apa sebenarnya yang kita minta dari penguasa?

Di permukaan, "Pesawat Tempur" adalah rayuan seorang pengangguran pada perempuan yang lewat sambil tersenyum. Di bawahnya ada satir tentang uang, militer, dan kuasa. Lagu ini membuat ketidakberdayaan terasa sangat dekat, dan justru karena itu mudah lupa bahwa ia belum menjawab pertanyaan yang ia ajukan sendiri: apakah memberi uang memang kewajiban penguasa?

Simile pertamanya sudah menanam benih itu. Perempuan yang lewat lalu pergi begitu saja disebut "bagai pesawat tempur", bukan pesawat biasa. Pesawat tempur mahal, cepat, milik negara, dan tidak mungkin dimiliki orang yang sedang memainkan gitar di pinggir jalan. Jarak antara keduanya sejak awal bukan jarak perasaan, tapi jarak kelas.

Penolakan perempuan itu pun digambarkan dengan kosakata kekuasaan:

"Rayuan mautku tak membuat kau jadi galak / Bagai seorang diplomat ulung engkau mengelak" — Iwan Fals, "Pesawat Tempur"

Diplomat tidak menolak secara langsung. Ia menghindar dengan keahlian, menjaga suasana tetap hangat sambil tidak memberikan apa-apa. Satu kata itu mengubah penolakan pribadi menjadi sesuatu yang lebih luas: siapa pun yang pandai memberi senyum tanpa memberi substansi.

Lalu narator mengaku, dan pengakuannya terdengar seperti diagnosis:

"Kalau saja aku bukanlah penganggur / Sudah kupacari kau"

Ia tidak menyalahkan wajah, sifat, atau nasib. Ia menunjuk kondisi material. Dan kondisi itu, dalam logika lagu, bukan pilihan pribadi, melainkan akibat dari sesuatu yang lebih besar. Di titik inilah lagu berbelok dari rayuan ke tuntutan:

"Penguasa penguasa / Berilah hambamu uang"

Baris ini diulang belasan kali. Melodinya tetap ringan, hampir riang, tapi pengulangannya bekerja seperti kelelahan. Di ulangan-ulangan awal ia terdengar seperti permintaan. Makin lama ia terdengar seperti teriakan yang tahu tidak akan dijawab, tapi tetap diteriakkan karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan. Kontras antara bunyi yang santai dan isi yang putus asa adalah cara Iwan membuat pendengar tertawa dulu, baru tersadar kemudian.

Bait berikutnya adalah yang paling politis:

"Andai kata dana perang buat diriku / Tentu kau mau singgah bukan cuma tersenyum"

Di sini lagu tidak lagi sekadar meminta. Ia menunjuk ke mana uang itu pergi: ke tentara, ke perang, ke anggaran yang tidak pernah sampai ke orang seperti narator. Lalu muncul satu nama yang mengubah seluruh nada: "Kalau hanya senyum yang engkau berikan, Westerling pun tersenyum." Raymond Westerling memimpin operasi militer Belanda di Sulawesi Selatan tahun 1946–1947 yang menewaskan banyak warga sipil. Satu nama itu cukup untuk mengatakan bahwa senyum bukan bukti kebaikan.

Semua ini membangun rasa yang sulit ditolak. Ketidakberdayaan narator terasa nyata, dan memang nyata. Tapi rasa yang meyakinkan belum tentu argumen yang selesai. Saya tidak mendengar lagu ini dari posisi narator, dan mungkin karena itu pertanyaannya terasa lebih keras: kalau rasa ini diakui, apakah kesimpulan "penguasa harus memberi uang" ikut terbukti?

Argumen "dana perang" berdiri di atas anggapan bahwa uang negara adalah satu kue: apa yang dipakai untuk tentara adalah apa yang dirampas dari rakyat. Secara persepsi, anggapan itu sangat masuk akal. Secara ekonomi, hubungan antara anggaran pertahanan dan nasib seorang pengangguran tidak sesederhana itu. Lagu ini tidak berkewajiban membuktikannya, karena ia bukan makalah kebijakan. Tapi pendengar yang ikut bernyanyi berhak tahu bahwa yang ia nyanyikan adalah tuntutan, bukan kesimpulan yang sudah diuji.

Iwan membangun empati, bukan argumen, dan empati yang berhasil sering membuat kita lupa menanyakan argumennya.

Menariknya, lagu ini mungkin sudah menyimpan bantahannya sendiri. Kata yang dipilih adalah "hamba", bukan "rakyat" atau "warga". Warga menuntut hak. Hamba memohon belas kasihan. Dengan menempatkan narator sebagai hamba yang meminta-minta pada penguasa, Iwan bisa sedang menuntut negara memberi, atau sedang menertawakan hubungan yang membuat rakyat hanya bisa memohon. Dua bacaan itu menghasilkan kesimpulan yang berlawanan, dan lagu tidak memilih di antaranya.

Di situ lensa kendali bekerja. Bacaan pertama meletakkan kendali sepenuhnya di tangan penguasa: hidup narator, termasuk kemampuannya mencinta, menunggu kemurahan dari atas. Bacaan kedua menunjukkan bahwa posisi "hamba" itu sendiri yang bermasalah, posisi di mana satu-satunya tindakan yang tersedia adalah meminta. Kedua bacaan mengakui rasa yang sama. Yang berbeda adalah apa yang dianggap sebagai jalan keluarnya.

Lagu ini ditutup tanpa jawaban. Perempuan itu tetap lewat, penguasa tetap diam, dan permintaan tetap diulang sampai lagu selesai. Yang tersisa bagi pendengar adalah pilihan: ikut berteriak, atau bertanya mengapa teriakan itu yang menjadi satu-satunya pilihan.

Kalau kita bisa merasakan ketidakberdayaan narator tanpa setuju bahwa penguasa harus memberinya uang, apa sebenarnya yang kita minta dari penguasa?